Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesStocksEarnInstitusiAI & Lainnya
IHSG Anjlok, Dana Pensiun Tertekan hingga 1% Bergantung Portofolio Nilai Saham

IHSG Anjlok, Dana Pensiun Tertekan hingga 1% Bergantung Portofolio Nilai Saham

Liputan6Liputan62026/10/18 12:33
Oleh:Liputan6
Nilai portofolio investasi dan hasil dana pensiun diprediksi terpengaruh tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta -
Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) berpotensi menekan nilai portofolio investasi dan hasil investasi dana pensiun, terutama bagi pengelola dana yang memiliki eksposur saham besar. Besarnya dampak bergantung pada porsi saham dalam portofolio dan konsentrasi investasi pada emiten tertentu.

Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Abdul Hadi mengatakan koreksi pasar saham dapat memberikan tekanan besar terhadap dana pensiun dengan eksposur saham signifikan, terutama dalam jangka pendek.

“Secara umum tentu memberikan tekanan yang sangat besar, terutama untuk Dapen yang memiliki eksposur saham signifikan,” ujar Abdul Hadi kepada Liputan6.com, Minggu (18/10/2026).

Ia menjelaskan, penurunan IHSG tidak memberikan dampak yang sama terhadap seluruh dana pensiun karena setiap pengelola memiliki komposisi investasi berbeda.

“Namun, besarnya dampak tidak hanya ditentukan oleh penurunan IHSG, melainkan juga oleh persentase saham dalam portofolio maupun konsentrasi pada emiten tertentu,” kata Abdul Hadi.

Sebagai ilustrasi, apabila saham mencakup 5-10% dari portofolio investasi dan harganya turun 10%, nilai keseluruhan portofolio berpotensi turun sekitar 0,5-1%, dengan asumsi nilai aset lainnya tidak berubah.

Abdul Hadi mengatakan ADPI belum memiliki data terperinci untuk mengukur dampak penurunan pasar saham terhadap seluruh dana pensiun. Karena itu, pengukuran dampak perlu mempertimbangkan besarnya eksposur saham masing-masing dana pensiun.

Kinerja IHSG Sepekan

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada 12-16 Oktober 2026. Analis menilai tekanan IHSG sepekan salah satunya dipicu investor yang panik setelah MSCI memulai konsultasi mengenai potensi perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market (EM) menjadi Standalone market.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (17/10/2026), IHSG sepekan anjlok 14,91% sehingga ditutup ke posisi 5.185,10 dari pekan lalu di posisi 6.093,75.

Pada pekan ini, tepatnya Jumat, 16 Oktober 2026, BEI juga menghentikan sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 08.58.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), menyusul koreksi IHSG yang mencapai 8%.

Kapitalisasi pasar juga anjlok 14,43% menjadi Rp 9.157 triliun dari Rp 10.701 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan ini, IHSG anjlok 14,91% disertai dengan tekanan jual yang membesar. Pihaknya memperkirakan, tekanan IHSG itu didorong sejumlah faktor. Pertama, menurut Herditya, panic selling investor setelah penyedian indeks global MSCI mengeluarkan proposal perubahan status Indonesia dari emerging market (EM) menjadi Standalone Market atau pasar mandiri. “Hal ini sifatnya konsultasi dengan keputusan final pada Juni 2027 dan dapat dibalkan apabila terdapat perbaikan yang signifikan,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Faktor kedua, rilis consumer price index (CPI) Amerika Serikat di level 3,7% Year on Year (YoY) dan masih jauh dari target the Federal Reserve (the Fed), sehingga diperkirakan the Fed masih akan higher for longer ke depan dengan kenaikan satu kali sebelum akhir 2026.

Di sisi lain, Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat juga naik 1,3% Month on Month. Faktor ketiga, konflik Timur Tengah masih menjadi cermatan pasar, di mana masih terjadi eskalasi antara Houthi dan Arab Saudi.

"Hal tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar akan adanya kenaikan harga minyak mentah dan akan terjadinya inflasi energi secara global,” kata dia.

 

Volume Transaksi Harian

Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (BAY ISMOYO/AFP)

Selain itu, rata-rata volume transaksi harian juga merosot 5,22% menjadi 44,10 miliar saham dari pekan lalu 46,53 miliar saham. Diikuti rata-rata nilai transaksi harian yang terpangkas 0,07% menjadi Rp 16,21 triliun dari Rp 16,23 triliun pada pekan lalu.

Kemudian rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 2,46% menjadi 1,72 juta kali transaksi dari 1,67 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Pada pekan ini, investor asing menjual saham Rp 3,19 triliun. Aksi jual investor asing ini lebih besar dari pekan lalu Rp 2,44 triliun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!