Pemerintah memperkuat distribusi BBM, meningkatkan produksi energi domestik, dan menyiapkan bahan bakar alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor.
Bahlil meminta PT Pertamina (Persero) menambah armada kapal pengangkut BBM, terutama untuk jalur Jawa Timur–Bali dan wilayah yang mengandalkan transportasi laut.
Advertisement
“Tadi saya juga mendapat laporan dari Pertamina, bahwa secara stok nasional kita, BBM, itu di 16–18 hari. Jadi stok BBM nasional, insya Allah, itu aman,” ujar Bahlil di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Pemerintah juga menargetkan ketahanan stok bensin RON 90 kembali mencapai 20 hari dalam sekitar satu pekan. Perubahan konsumsi setelah sebagian pengguna bensin beroktan lebih tinggi beralih ke RON 90 turut memengaruhi kebutuhan pasokan.
BPH Migas melaporkan penyaluran BBM di sejumlah SPBU Mojokerto, Jawa Timur, kembali normal pada 16 Oktober 2026. Pasokan kembali berasal dari Terminal BBM Surabaya setelah sebelumnya menggunakan jalur alternatif dari Boyolali dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam.
Selain mengamankan distribusi, pemerintah memperbesar pasokan energi domestik melalui pengoperasian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, pada 15 Oktober 2026. Fasilitas milik PT Energi Nusantara Perkasa tersebut menghasilkan sekitar 160 ton LPG per hari dan memiliki kapasitas pengolahan gas 40 juta standar kaki kubik per hari.
Perkuat Sektor Energi
ESDM mencatat kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 9 juta ton per tahun, sedangkan produksi domestik baru sekitar 1,9 juta ton atau 21% dari kebutuhan. Pemerintah juga menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif LPG untuk memperluas pilihan sumber energi.
Di sektor hulu, pemerintah mendorong peningkatan produksi minyak melalui pengelolaan sumur rakyat. ESDM menyebut sejumlah sumur berizin di Sumatera dan Jawa telah berproduksi, sementara pemerintah juga telah menandatangani izin pengelolaan sumur rakyat di Aceh.
Pemerintah turut mematangkan pengembangan bioetanol untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan produksi domestik berada pada kisaran 18–19 juta kiloliter.
ESDM menyiapkan pengembangan campuran etanol secara bertahap hingga E50 dengan mempertimbangkan kesiapan industri dalam negeri. Untuk tahap E20, kebutuhan etanol diperkirakan mencapai sekitar 8 juta kiloliter, dengan potensi bahan baku berupa singkong, tebu, dan jagung dari Jawa, Sumatera, serta Papua.
"Jangan sampai kita melakukan mandatori, tapi etanolnya kita impor. Enggak boleh,” tegas Bahlil.
Pemerintah mengarahkan penguatan armada distribusi, peningkatan produksi LPG dan minyak, serta pengembangan bioetanol untuk menjaga pasokan jangka pendek sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement

