Pantauan harga pangan ini bersumber dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada Rabu (19/8/2026).
Sementara itu, harga gula dan minyak masih terpantau stabil. Gula pasir varian premium dibanderol Rp 20.300 per kg, dan minyak goreng curah dijual Rp 20.450 per liter. Berikut adalah daftar lengkap harga beras, minyak, dan gula pada Rabu pagi:
Advertisement
Harga Beras
- Kualitas Super: Tipe I dijual di harga Rp 17.750 per kg, dan tipe II di harga Rp 17.250 per kg.
- Kualitas Medium: Tipe I dan tipe II dipatok seharga Rp 16.500 dan Rp 16.300 per kg.
- Kualitas Bawah: Tipe I dibanderol seharga Rp 14.800 per kg, sedangkan tipe II seharga Rp 14.650 per kg.
Harga Minyak dan Gula
- Minyak Goreng: Kemasan bermerek 1 berada di harga Rp 24.300 per liter, kemasan bermerek 2 seharga Rp 23.500 per liter, dan jenis curah di harga Rp 20.450 per liter.
- Gula Pasir: Varian premium dijual Rp 20.300 per kg, sedangkan gula pasir lokal diberi harga Rp 19.050 per kg.
Harga Beras Naik di 120 Daerah
Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri) Tomsi Tohir meminta pemerintah daerah (Pemda) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) segera mengintervensi kenaikan harga beras di sejumlah daerah.
Tomsi menilai pengendalian harga beras perlu dilakukan lebih cepat karena komoditas tersebut merupakan kebutuhan pokok mayoritas masyarakat sekaligus memiliki pengaruh besar terhadap inflasi.
“Beras ini besar sekali. Jadi kalau sedikit saja kenaikan harga beras mengenai inflasi kita naik, karena semua makan beras. Kalau cabai, sebagian tidak makan cabai,” ujar Tomsi saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah 2026 yang dirangkaikan dengan Evaluasi Dukungan Pemda dalam Program 3 Juta Rumah secara hybrid dari Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Tomsi menyoroti kenaikan harga beras di sejumlah daerah. Di Kabupaten Bone Bolango, harga beras tercatat naik sekitar 13 persen, sedangkan di Kabupaten Pohuwato mendekati 10 persen.
Ia meminta Pemda dan TPID segera turun ke lapangan untuk memastikan perkembangan harga, ketersediaan pasokan, serta faktor yang menyebabkan kenaikan.
Khusus Bone Bolango, Tomsi meminta Perum Bulog berkoordinasi dengan Pemda setempat untuk segera menggelar operasi pasar.
Menurut dia, intervensi perlu dilakukan sejak awal agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.
“Jadi tidak boleh sedikit pun ada kenaikan harga beras dengan stok kita yang banyak,” tegas Tomsi.
Advertisement
Jangan Tunggu Harga Terlanjur Naik
Tomsi meminta Pemda tidak menunggu harga beras melonjak sebelum melakukan intervensi.
Menurut dia, TPID harus aktif memantau perkembangan harga dan segera mengambil langkah ketika mulai muncul indikasi kenaikan.
“Jangan nunggu naik dulu baru kita berbuat. Itulah gunanya supaya jangan sempat naik,” katanya.
Selain Bone Bolango dan Pohuwato, Tomsi meminta daerah lain yang mengalami kenaikan harga beras melakukan pengecekan langsung ke pasar.
TPID juga diminta memperkuat koordinasi dengan Bulog, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk memantau perkembangan harga dan pasokan pangan.
Tomsi menilai ketersediaan stok beras nasional yang besar seharusnya dapat digunakan sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga di daerah.
“Beras kita banyak, hampir 5,7 juta ton, terbanyak sepanjang sejarah. Kalau sampai naik, apalagi naiknya tinggi, ini berarti kesalahan ada pada kita,” tandasnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6




