Mengutip Antara, rupiah dibuka menguat 19 poin atau 0,11% menjadi 17.896 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.915 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menuturkan, pergerakan rupiah dipengaruhi ketegangan antara AS dengan Iran yang meningkat.
Advertisement
"Muncul laporan bahwa Gedung Putih telah meminta opsi serangan militer terhadap Iran menjelang pemilu sela AS,” ujar dia.
Kantor Berita Sputnik melaporkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan tim keamanan nasional membahas sejumlah opsi untuk melanjutkan operasi militer berskala besar terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang, termasuk sebelum pemilu sela AS pada 3 November 2026.
Dalam laporan NBC News yang mengutip sumber dijelaskan beberapa pejabat pemerintahan Trump membahas strategi AS terkait Iran dan Yaman di pertemuan di Camp David pekan lalu. Usai pertemuan itu, militer AS menyiapkan sejumlah opsi operasional baru untuk Trump, meskipun belum ada keputusan akhir yang diambil.
Jadwal terkait dimulainya kembali operasi militer berskala besar itu masih belum jelas.
Selain itu, sentimen lainnya berasal dari ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk waktu yang lebih lama.
“Kembali meningkatnya harga minyak juga menambah tekanan inflasi, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih dapat melakukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut,” kata dia.
Sementara itu, risalah Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 menunjukkan mayoritas anggota The Fed memperkirakan kenaikan Fed Funds Rate (FFR) kembali dilakukan tahun ini, meskipun waktunya masih belum pasti.
Gubernur The Fed, Waller juga menuturkan, kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target, dengan menekankan bahwa laju pengetatan kebijakan tetap fleksibel.
“Pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober 2026, sementara probabilitas kenaikan sebesar 25 bps (basis points) pada Desember 2026 mencapai sekitar 69 persen,” ujar Josua.
Penutupan Rupiah 8 Oktober 2026
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Kamis 8 Oktober 2026. Mata uang Indonesia ini turun 28 poin atau 0,16% ke level 17.915 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di 17.866 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah kali ini terdorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik akibat ancaman serangan militer AS ke Iran.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah DXY, yield UST dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik oleh ancaman serangan militer AS terhadap Iran," ucapnya dikutip Antara, Kamis (8/10/2026).
Mengutip laporan Sputnik, pemerintah AS dikabarkan telah meminta Departemen Perang menyusun berbagai skenario serangan ke Iran menjelang gelaran pemilu paruh waktu Kongres pada November mendatang.
Berdasarkan laporan The Atlantic yang mengutip dua pejabat pemerintahan, Komando Pusat AS (CENTCOM) memang sedang menggodok rencana tersebut, walau keputusan akhir terkait eksekusi serangan belum final. Hingga kini, pembahasan mengenai batasan serta sasaran dari potensi serangan masih terus bergulir.
Memanasnya tensi geopolitik ini ditengarai mencerminkan ambisi Presiden AS Donald Trump untuk menekan harga bensin sekaligus mengamankan capaian politik menjelang pemilu paruh waktu.
Advertisement
Faktor dari Dalam Negeri
Tak cuma faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri seiring rilis indeks kepercayaan konsumen periode September 2026 yang tampak melesu ketimbang bulan sebelumnya.
"Data yang menunjukkan penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia dari 118,5 ke 118,1 ikut membebani rupiah," kata Lukman.
Sejalan dengan kondisi di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini turut meluncur turun ke level Rp17.890 per dolar AS dari posisi sebelumnya di 17.880 per dolar AS.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

