Data historis menunjukkan bahwa satu kali kenaikan suku bunga tidak cukup untuk mengakhiri bull market, siklus pengetatan yang lengkap adalah ancaman sebenarnya.
Sejak tahun 1945, S&P 500 telah mengalami 12 kali bear market dengan penurunan lebih dari 20% dan 4 kali koreksi mendalam antara 18% hingga 20%. Di antaranya, 6 kali terjadi setelah siklus kenaikan suku bunga yang secara langsung menyebabkan resesi ekonomi, sementara dua kali lainnya tidak berkaitan dengan kenaikan suku bunga maupun resesi. Goldman Sachs menilai bahwa pasar telah mengantisipasi beberapa kali kenaikan suku bunga; Morgan Stanley memperingatkan bahwa kenaikan yield dapat memicu koreksi; sedangkan JPMorgan lebih fokus pada harga minyak dan profitabilitas.
Ketika ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve meningkat, para ahli strategi Wall Street tidak serta-merta menjadi pesimis terhadap saham AS. Morgan Stanley, JPMorgan, dan Goldman Sachs berpendapat bahwa pasar saat ini telah memperhitungkan perubahan kebijakan, sementara laba perusahaan dan pertumbuhan ekonomi masih menjadi faktor utama penopang bursa, dan kenaikan suku bunga tunggal belum tentu akan mengubah arah pasar untuk jangka menengah.
Saat ini, pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve minggu ini telah naik hingga 87%, dan jika terealisasi ini akan menjadi kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, indeks S&P 500 hanya sekitar 2% dari rekor tertingginya, dan laba perusahaan masih kuat. Dibandingkan kenaikan suku bunga itu sendiri, para ahli strategi lebih memperhatikan apakah pengetatan kebijakan moneter akan lebih lanjut menekan aktivitas ekonomi dan laba perusahaan.
Sejarah juga menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga yang berkelanjutan dan resesi biasanya lebih mudah menjadi pemicu pasar bearish dibandingkan penyesuaian kebijakan tunggal. Analisis Bloomberg menunjukkan bahwa sejak 1945, indeks S&P 500 telah mengalami 12 kali pasar bearish dengan penurunan lebih dari 20%, serta 4 kali koreksi mendalam antara 18% hingga 20%. Enam di antaranya terjadi setelah siklus kenaikan suku bunga langsung menyebabkan resesi ekonomi, dan dua kali lainnya tidak dipicu oleh siklus kenaikan suku bunga maupun resesi.
Tekanan jangka pendek saat ini terutama berasal dari inflasi dan suku bunga. Harga minyak terus bertahan di atas 100 dolar AS per barel, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mendekati 5%, keduanya membuat pasar kembali khawatir terhadap tekanan inflasi. Saham AS terus berfluktuasi sejak mencapai rekor tertinggi pada pertengahan Agustus, dan indeks Nasdaq 100 futures turun 1,6% pada Senin.
Pandangan Wall Street: Laba, imbal hasil, dan harga minyak sebagai tiga fokus utama
Ben Snider, Kepala Strategi Saham AS di Goldman Sachs, menyatakan bahwa pasar telah mengantisipasi ekspektasi lebih dari tiga kenaikan suku bunga dalam satu tahun ke depan, sementara laba perusahaan dan neraca tetap kuat. Oleh sebab itu, perubahan kebijakan itu sendiri mungkin hanya memberi dampak terbatas pada pasar saham.
Michael Wilson dari Morgan Stanley memusatkan perhatian pada imbal hasil obligasi pemerintah AS. Jika guncangan inflasi jauh melebihi ekspektasi, saham AS mungkin mengalami koreksi teknikal sekitar 10%. Terutama dalam konteks harga minyak yang kembali menembus 100 dolar AS per barel serta situasi geopolitik Timur Tengah yang terus berlanjut, kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil jangka panjang dapat menambah tekanan pada saham-saham dengan valuasi tinggi.
Namun, menurut Wilson, perlu dibedakan alasan kenaikan imbal hasil. Jika kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun terutama mencerminkan pertumbuhan ekonomi nominal yang lebih kuat alih-alih inflasi yang tidak terkendali, maka pasar saham masih memiliki ruang untuk bertahan. Dalam situasi ini, saham bahkan dapat tetap berfungsi sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi.
Tim strategi JPMorgan menganggap harga minyak sebagai variabel penting bagi pasar saat ini. Kenaikan harga minyak yang berlanjut dapat meningkatkan ekspektasi inflasi dan semakin menekan valuasi saham; jika tekanan harga minyak mereda, pasar akan lebih mudah menerima dampak kenaikan suku bunga.
Kepala Strategi Saham JPMorgan, Mislav Matejka, juga mengingatkan bahwa September memang merupakan bulan yang secara historis performa pasar saham AS relatif lemah, sehingga faktor musiman mungkin memperbesar volatilitas belakangan ini. Namun, dalam siklus yang lebih panjang, kekuatan pasar tetap bergantung pada kinerja ekonomi dan laba, bukan hanya peristiwa kebijakan tunggal.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
Kamu mungkin juga menyukai
Anthropic menggandeng perusahaan terkait Trump, RUM Group (RUM.US)! Kontrak komputasi senilai 13,7 miliar dolar memicu kekhawatiran konflik kepentingan
Anthropic telah menandatangani kontrak komputasi senilai 13,7 miliar dolar AS dengan RUM Group untuk jangka waktu enam tahun. Hubungan dekat RUM Group dengan Trump juga memicu kekhawatiran tentang potensi konflik kepentingan.

Pergerakan saham AS | Corning (GLW.US) turun lebih dari 8% di pra-pasar, berencana melakukan penerbitan saham tambahan untuk mengumpulkan dana hingga 2 milyar USD
Perusahaan mengumumkan rencana penerbitan saham baru yang dapat mengumpulkan dana hingga 2 miliaran dolar AS.

TD Cowen menurunkan target harga McDonald's menjadi 282 dolar AS
