Apakah imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik menjadi 5,5% akan "menghantam" saham AS? Societe Generale memperingatkan: Ini mungkin merupakan titik kritis penilaian.
Kepala Pengalokasian Aset Global di Societe Generale, Bokobza, menyatakan bahwa jika imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun mencapai 5,5%, pertumbuhan laba perusahaan tidak akan cukup untuk mengimbangi dampak kenaikan suku bunga terhadap valuasi, sehingga pasar saham akan menghadapi tekanan yang signifikan. Namun, menurut dirinya, kenaikan suku bunga lanjutan dari Federal Reserve dan European Central Bank akan terbatas dan tidak akan mengganggu siklus ekonomi saat ini.
Dengan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat, pasar semakin memperhatikan titik kritis tekanan terhadap valuasi saham.
Alain Bokobza, Kepala Global Asset Allocation di Société Générale, memberikan batas peringatan yang jelas—5,5%. Menurutnya, jika imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke tingkat ini, pertumbuhan laba perusahaan tidak akan cukup untuk mengimbangi dampak kenaikan biaya pinjaman terhadap valuasi, dan pasar saham akan menghadapi tekanan nyata.
Bokobza mengatakan dalam wawancara pada hari Senin bahwa proyeksi laba global tahun ini telah mengalami revisi naik secara signifikan, sehingga meskipun dalam lingkungan imbal hasil yang naik, ekuitas risk premium belum mengalami penurunan yang jelas. "Valuasi saham saat ini tidak lebih mahal dibandingkan awal tahun," ujarnya.
Namun ia memperingatkan, 5,5% akan menjadi titik kritis di mana revisi naik laba tidak lagi mampu menopang valuasi—pada saat itu, "saham akan mulai berada di bawah tekanan." Saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di angka 4,8% (pasar tunai libur Hari Buruh).

Pasar obligasi belakangan ini kembali mendominasi sentimen investor saham. Eskalasi konflik AS-Iran mendorong rebound harga minyak, kekhawatiran inflasi muncul kembali, ditambah sinyal hawkish dari Federal Reserve dan European Central Bank, kekhawatiran defisit fiskal, serta tren belanja modal AI yang semakin menajamkan persaingan modal, semuanya turut mendorong imbal hasil naik.
Revisi naik laba menopang valuasi, tapi ruangnya terbatas
Bokobza menyoroti bahwa proyeksi laba perusahaan di seluruh dunia tahun ini telah dinaikkan secara signifikan, inilah penopang utama bagi valuasi saham di tengah naiknya imbal hasil.
Namun, mekanisme buffer ini tidak tanpa batas. Ia mendefinisikan 5,5% sebagai titik balik di mana efek perlindungan pertumbuhan laba terhadap valuasi akan sepenuhnya hilang—melampaui tingkat ini, tekanan biaya pinjaman akan secara sistemik menurunkan daya tarik relatif saham.
Grace Peters dari JPMorgan minggu lalu mengatakan bahwa jika imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai 5%, ini akan menjadi level psikologis penting dan bisa memicu reaksi stres di pasar saham.
Emmanuel Cau dari Barclays juga menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil ke 5% akan membuat investor menjadi jauh lebih berhati-hati terhadap prospek saham.
Peningkatan jangka panjang PDB nominal jadi tekanan struktural
Bokobza menyebut logika mendasar di balik kenaikan imbal hasil saat ini adalah tren "kenaikan struktural jangka panjang" pada PDB nominal.
Menurutnya, tren ini dipicu oleh banyak faktor yang saling bertumpuk: ekspansi fiskal berkelanjutan di negara-negara ekonomi utama seperti Jerman dan Jepang, inflasi yang tetap tinggi, serta lonjakan permintaan modal akibat pembangunan infrastruktur AI.
Ia menelusuri titik awal perubahan ini ke awal dekade 2020-an, menganggapnya sebagai pergeseran paradigma mendasar yang dalam waktu dekat tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbalik arah.
Dari sudut pandang ini, kenaikan imbal hasil bukan variabel kebijakan moneter semata, tetapi tertanam dalam penyesuaian struktural ekonomi dalam siklus jangka panjang.
Ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral cenderung moderat, siklus ekonomi belum berakhir
Meski ada kekhawatiran pasar akan inflasi yang berkelanjutan, Bokobza menilai bahwa kenaikan suku bunga selanjutnya dari Federal Reserve dan European Central Bank kemungkinan akan terbatas, belum cukup kuat untuk memutus siklus ekonomi saat ini maupun secara substansial menekan ekspektasi inflasi.
Ini berarti, dalam skenario dasarnya, pasar saham tidak menghadapi kehancuran sistemik yang segera terjadi, tapi lebih pada uji tekanan bertahap di tengah imbal hasil tinggi yang bertahan lama.
Bagi investor, rentang antara 4,78% hingga 5,5% mungkin akan menjadi zona permainan paling sensitif dalam hubungan antara saham dan obligasi untuk beberapa waktu ke depan.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
Kamu mungkin juga menyukai
MEME mendorong pasar saham AS, seberapa lama pesta ini bisa bertahan?

Li Ying Bicoin Talk: Analisis Terbaru Harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) pada 9.8

