Pada tahun 2025, cadangan emas resmi global untuk pertama kalinya melampaui obligasi AS, tetapi ekonom Federal Reserve tetap bersikeras bahwa obligasi AS masih menjadi inti cadangan.
Berita HuiTong, 7 September—— Colin Weiss dari Federal Reserve menegaskan bahwa nilai pasar cadangan emas yang melampaui obligasi AS adalah "ilusi digital", lonjakan nilai pasar ini berasal dari kapital swasta yang mendorong harga dan stok sejarah, bukan pergeseran strategi bank sentral. Meskipun pembelian emas resmi meningkat sejak 2022, obligasi AS tetap menjadi inti cadangan, dan setelah mengecualikan negara-negara pemilik emas tradisional, kepemilikan obligasi AS oleh negara lain tetap lebih tinggi daripada emas, serta pembelian bersih obligasi AS oleh otoritas asing terus berlanjut, menegaskan ketidaktergantian aset tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, dengan bank sentral berbagai negara terus menambah cadangan emas, sebuah data yang sangat mengejutkan telah menarik perhatian pasar global: pada tahun 2025, untuk pertama kalinya nilai buku cadangan emas resmi global melampaui skala obligasi pemerintah AS yang dimiliki oleh pihak asing. Perubahan monumental ini oleh sebagian media ditafsirkan sebagai "emas mulai menggantikan obligasi AS sebagai favorit baru cadangan", bahkan mengisyaratkan goyahnya status dolar AS.
Namun, Kepala Ekonom Aliran Dana Global di Federal Reserve, Colin Weiss, malah memberikan perspektif berbeda. Dalam catatan penelitian yang dirilis pada Jumat (4 September) waktu Beijing lalu, ia secara langsung menyatakan bahwa perbandingan data sederhana ini sangat menyesatkan, dan lonjakan nilai emas bukan hasil dari perubahan strategi bank sentral, melainkan gairah kapital swasta dan inersia stok sejarah.
Pesta Harga dan Pembelian yang Terkendali: Antara Kenyataan dan Ilusi di Balik Apresiasi Emas
Weiss dalam penelitiannya secara tegas membantah pandangan bahwa "daya tarik emas telah melampaui obligasi AS", serta membedah kekeliruan logika fundamental dari perbandingan ini.
Weiss menekankan bahwa lonjakan harga emas tidak berjalan seiring dengan peningkatan volume pembelian oleh bank sentral. Walaupun pembelian emas oleh bank sentral memang meningkat tajam pada 2022 dan bertahan pada tingkat tinggi setelahnya, hal ini belum cukup untuk menopang kenaikan harga emas yang luar biasa pada 2025. Penopang utama sesungguhnya adalah masuknya investor swasta pada akhir 2024, yang permintaannya terutama tercermin dalam arus masuk dana ke ETF emas fisik. Dengan kata lain, lonjakan nilai pasar cadangan emas lebih disebabkan oleh spekulasi pasar dan sentimen lindung nilai yang mendorong harga naik, bukan perubahan mendasar strategi alokasi aset resmi. Weiss menegaskan, tanpa dorongan kuat dari kapital swasta, kekuatan investor resmi saja tidak mungkin menciptakan gelombang harga sebesar ini.
Stok Sejarah dan Definisi Statistik: Kebenaran Cadangan Aset yang Tersembunyi
Selain faktor harga, Weiss juga mengungkap bias perbandingan dari sisi komposisi dan definisi statistik aset cadangan. Ia menunjuk bahwa besarnya nilai buku cadangan emas global sebagian besar berkat segelintir negara yang masih memegang emas warisan masa Bretton Woods, yang sejak tahun 1970-an tidak lagi melakukan penambahan emas secara signifikan.
Khususnya, Amerika Serikat sendiri adalah pemilik emas terbesar di dunia, yakni 22% dari total global, namun AS tidak dapat mengklasifikasikan obligasi pemerintahnya sebagai cadangan internasional, sehingga emas yang mereka miliki secara otomatis masuk dalam statistik "cadangan emas global". Menurut Weiss, metode statistik ini sangat membesar-besarkan data cadangan emas global, sehingga posisi emas dalam cadangan pemerintah asing diremehkan jika dibandingkan obligasi AS. Sekalipun emas milik AS dikeluarkan, pada akhir 2025 cadangan emas negara lain di dunia sekitar USD 4 triliun, yang sedikit lebih besar dari USD 3,9 triliun obligasi AS yang dimiliki secara resmi oleh pihak asing, namun pada Juni 2026, dengan naiknya kembali kepemilikan obligasi AS, kesenjangan ini pun berbalik.
Weiss lebih jauh menganalisis bahwa mayoritas besar cadangan emas bank sentral dunia pada kenyataannya merupakan warisan sejarah sebelum berakhirnya sistem Bretton Woods pada 1971, bukan hasil dari akumulasi aktif berdasarkan strategi dedolarisasi dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, kepemilikan obligasi AS oleh pihak resmi asing sebagian besar diakumulasi setelah tahun 2000. Negara dengan cadangan emas besar dan negara dengan cadangan devisa besar umumnya tidak sama, sehingga perbandingan nilai yang sederhana justru menutupi perbedaan hakiki dalam likuiditas dan fungsi aset cadangan.
Fondasi Obligasi AS Belum Bergeser: Pilihan Nyata dan Pertimbangan Strategis Pasar Resmi
Kendati nilai buku emas sempat mendekati atau bahkan melampaui obligasi AS, Weiss menekankan, jika mengamati negara yang benar-benar punya pilihan dalam pengelolaan aset cadangan, obligasi AS tetap menjadi fondasi inti dalam portofolio cadangan internasional.
Weiss menguraikan, walau dengan memperhitungkan tambahan pembelian emas resmi sejak 2022 menurut estimasi World Gold Council, setelah mengeluarkan AS, Jerman, Prancis, Italia dan IMF sebagai lima raksasa pemilik emas tradisional, skala kepemilikan obligasi AS negara lain tetap lebih tinggi sekitar USD 0,6 triliun dibanding emas yang mereka miliki. Ini menunjukkan bagi negara-negara dengan cadangan devisa besar, obligasi AS tetap menjadi komponen lebih penting dalam alokasi aset cadangan mereka.
Weiss mengakui bahwa sejak 2008, sektor resmi terus melakukan pembelian bersih emas, dan laju ini meningkat tajam setelah 2022. Peningkatan ini boleh jadi sebagian mencerminkan pertimbangan geopolitik dan kekhawatiran atas risiko sanksi. Namun, hal ini tidak mengurangi posisi obligasi AS. Data menunjukkan sejak 2022 hingga April 2026, investor resmi asing masih melakukan pembelian bersih hampir USD 200 miliar obligasi pemerintah AS. Weiss menyimpulkan, meski menghadapi berbagai faktor kompleks, investor resmi luar negeri tetap terus membeli obligasi AS, yang membuktikan posisi obligasi AS sebagai salah satu aset cadangan terpenting di dunia masih kokoh.
Penutup
Sebagai kesimpulan, nilai pasar cadangan emas yang melampaui obligasi AS lebih disebabkan oleh dorongan harga oleh kapital swasta dan akumulasi statistik stok sejarah, sehingga menghasilkan "ilusi digital", bukan perubahan revolusioner dalam tatanan sistem cadangan global. Analisis dari pakar Federal Reserve mengungkap logika mendalam: kebangkitan emas adalah hasil dari sentimen lindung nilai pasar dan fluktuasi harga, sementara obligasi AS masih menjadi fondasi likuiditas yang tak tergantikan dalam cadangan resmi berbagai negara. Walaupun tren pembelian emas resmi memang ada, hal itu lebih sebagai lindung nilai risiko geopolitik, bukan penolakan strategis terhadap aset dolar. Dalam lingkungan ekonomi global yang kompleks, membandingkan angka nominal secara sederhana tidak hanya menyesatkan, namun juga menutupi logika sesungguhnya dan pertimbangan jangka panjang dalam pengelolaan aset cadangan.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.



