Mengutip CNBC, Senin, (7/9/2026), Pertemuan tujuh anggota inti OPEC+, Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, berlangsung di tengah berlanjutnya gangguan akibat konflik terkait Iran terhadap ekspor minyak melalui Selat Hormuz, yang membatasi pengaruh OPEC+ terhadap harga dan pangsa pasar.
Pada Agustus, OPEC+ menyepakati peningkatan produksi untuk September, yang menuntaskan pencabutan bertahap kebijakan pengurangan pasokan sebesar 1,65 juta barel per hari yang disepakati pada 2023. Meskipun ada kesepakatan peningkatan produksi, kelompok yang terdiri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya (termasuk Rusia) ini masih memproduksi minyak jauh di bawah target akibat konflik tersebut.
Advertisement
Kekuatan OPEC dibatasi oleh konflik Iran
"OPEC+ saat ini memiliki kekuatan yang sangat terbatas atas pasar minyak fisik," ujar Jorge Leon dari Rystad Energy.
"Kelompok ini bisa mengubah target produksi di atas kertas, namun tidak dapat menjamin bahwa volume minyak tersebut akan benar-benar diproduksi atau sampai ke pasar,” ia menambahkan.
"Fokus kini beralih dari penyesuaian produksi bulanan menuju perdebatan yang jauh lebih krusial mengenai tahun 2027,” tutur dia.
OPEC+ masih menerapkan kebijakan pengurangan produksi lainnya yang mencakup sebagian besar anggota kelompok yang terdiri dari 21 negara tersebut hingga akhir 2026.
Sebelum memutuskan cara mengakhiri pengurangan tersebut dan mengembalikan tingkat produksi ke pasar, kelompok ini perlu meninjau kapasitas produksi minyak anggotanya guna menetapkan angka dasar (baseline) produksi 2027, yang menjadi acuan bagi penentuan kuota.
OPEC Diperkirakan Menunda Kenaikan Produksi
Perdebatan ini kemungkinan besar baru akan terjadi pada 2026, sehingga OPEC+ diperkirakan menunda peningkatan produksi untuk kuartal keempat, menurut informasi dari sejumlah sumber kepada Reuters sebelumnya. Pernyataan Minggu tersebut tidak menyinggung kebijakan apa pun untuk periode setelah bulan Oktober.
Hanya tujuh anggota OPEC+ yang bertemu pada Minggu , ditambah Uni Emirat Arab sebelum keluar dari OPEC pada Mei, yang terlibat dalam pengambilan keputusan produksi bulanan selama beberapa tahun terakhir. Ketujuh negara tersebut akan mengadakan pertemuan berikutnya pada 4 Oktober.
Harga minyak naik lebih dari 7% sepanjang minggu setelah AS dan Iran kembali terlibat bentrokan militer di bulan ketujuh konflik mereka, sementara harga diesel di AS mencapai rekor tertinggi.
Harga minyak mentah berjangka Brent naik 76 sen dan ditutup pada level US$ 96,28 per barel pada Jumat, sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 18 sen dan berakhir US$ 91,48. Brent mencatat kenaikan hampir 8% selama seminggu, sementara WTI naik hampir 10%.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement




