Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnAIWawasanSelengkapnya
Ekspansi Kredit dan Penguatan Dana Murah Bawa Laba BRI Tumbuh 17,5 Persen Jadi Rp31,2 Triliun

Ekspansi Kredit dan Penguatan Dana Murah Bawa Laba BRI Tumbuh 17,5 Persen Jadi Rp31,2 Triliun

Liputan6Liputan62026/09/01 11:36
Oleh:Liputan6
Laporan Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Jakarta 31 Agustus 2026. (Sumber: BRI)

Liputan6.com, Jakarta -
Di tengah dinamika ekonomi dan industri perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat kinerja positif hingga akhir Triwulan II 2026. laba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut berjalan beriringan dengan ekspansi bisnis dan penguatan sejumlah indikator fundamental perseroan. Hingga akhir Juni 2026, aset BRI secara konsolidasian mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% yoy.

Kredit dan pembiayaan menjadi salah satu penopang pertumbuhan tersebut. Hingga Triwulan II 2026, kredit dan pembiayaan BRI meningkat 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang tetap resilien. Pada Triwulan II 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,30%, sementara inflasi tercatat 3,34%.

“Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,” ujar Hery dalam pemaparan kinerja BRI di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Industri Perbankan Tetap Tumbuh

Di tengah kondisi ekonomi tersebut, industri perbankan nasional juga masih menunjukkan fundamental yang solid hingga Triwulan II 2026.

Kredit industri perbankan tumbuh 12,7% yoy. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 10,2% yoy dan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) tumbuh 11,0% yoy.

Dari sisi kualitas aset, Loan at Risk (LaR) industri turun menjadi 8,5%. Adapun Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 88,3%, sedangkan Return on Asset (ROA) industri terjaga pada level 2,5%.

Pertumbuhan tersebut menjadi gambaran bahwa industri perbankan masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah dinamika likuiditas dan perekonomian. Bagi BRI, kondisi industri tersebut menjadi salah satu konteks dalam menjalankan strategi pertumbuhan sekaligus menjaga kualitas bisnis.

Transformasi Mulai Berdampak pada Kinerja BRI

Untuk menjaga pertumbuhan bisnis, BRI menjalankan transformasi melalui BRIVolution Reignite. Program ini berfokus pada dua agenda utama, yakni memperkuat funding franchise serta memperbarui bisnis inti sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru.

Dari sisi pendanaan, BRI terus memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem. Perseroan juga memanfaatkan kanal digital seperti BRImo, QRIS, akuisisi merchant, hingga BRILink Agen untuk memperkuat transaksi dan memperluas basis nasabah.

Di sisi lain, bisnis mikro tetap menjadi salah satu kekuatan utama BRI. Penyempurnaan proses bisnis, penguatan tenaga pemasar atau mantri, serta penerapan manajemen risiko dilakukan untuk menjaga agar ekspansi kredit tetap berjalan bersama perbaikan kualitas aset.

BRI juga mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan product value proposition dan targeting nasabah, serta perluasan layanan bullion bank.

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” kata Hery.

Implementasi strategi tersebut terlihat dari sejumlah indikator keuangan. Selain pertumbuhan aset dan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% yoy.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) juga meningkat 9,9% yoy, dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Sementara itu, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tumbuh 12,8% yoy menjadi Rp65,7 triliun.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat,” ujar Hery.

Fundamental BRI Makin Sehat

Laporan Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Jakarta 31 Agustus 2026. (Sumber: BRI)

Pertumbuhan bisnis BRI juga dibarengi dengan perbaikan sejumlah indikator fundamental.

Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0% pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4% pada Triwulan II 2026. Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) membaik dari 41,9% menjadi 39,2%.

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0% menjadi 2,9%, sedangkan Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4% menjadi 3,1%.

Di sisi profitabilitas, Return on Asset (ROA) BRI tetap berada di kisaran 2,7%. Sementara itu, Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6% pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8% pada Triwulan II 2026.

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” tutur Hery.

Kredit UMKM Capai Rp1.235,4 Triliun

Di tengah upaya memperluas sumber pertumbuhan, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai core business.

Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit BRI kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6% yoy. Angka tersebut setara dengan sekitar 75,1% dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Porsi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi bisnis BRI ke berbagai segmen tidak mengubah fokus perseroan terhadap ekonomi kerakyatan. Pengembangan bisnis consumer, small-medium-commercial, corporate, maupun sumber pertumbuhan baru tetap berjalan dengan UMKM sebagai salah satu fondasi utama.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Hery.

Kondisi sektor UMKM sendiri menunjukkan perkembangan positif. Indeks Bisnis UMKM meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026. Posisi indeks di atas 100 menunjukkan pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase ekspansi dan memiliki optimisme terhadap aktivitas usahanya.

Penyaluran KUR Tembus Rp103,8 Triliun

Laporan Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Jakarta 31 Agustus 2026. (Sumber: BRI)

Dukungan BRI terhadap UMKM tidak hanya dilakukan melalui penyaluran kredit, tetapi juga melalui berbagai program pemberdayaan.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Pada tingkat komunitas usaha, Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.

Sementara melalui platform digital LinkUMKM, BRI telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Adapun pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.

Dari sisi pembiayaan, BRI juga terus menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sepanjang Januari hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.

Jika dihitung secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

Menurut Hery, pembiayaan dan pemberdayaan perlu berjalan beriringan agar pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan akses modal, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kapasitas usahanya.

“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujar Hery.

Dengan kinerja hingga Triwulan II 2026 tersebut, BRI berupaya menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat fundamental. Ekspansi kredit, pertumbuhan dana pihak ketiga, perbaikan kualitas aset, serta besarnya porsi pembiayaan UMKM menjadi bagian dari strategi perseroan untuk menjaga pertumbuhan tetap berkelanjutan.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!