Mengutip BBC, Sabtu, (29/8/2026), Ketua The Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh menuturkan, meski inflasi selama musim panas tampak lebih baik dari perkiraan, data tersebut tidak menunjukkan ada perbaikan yang berarti pada situasi saat ini.
Kevin menegaskan, pernyataannya tidak boleh dianggap sebagai pedoman untuk keputusan suku bunga pada masa depan. Namun, komentar itu menjadi sinyal suku bunga dapat dinaikkan jika pembuat kebijakan menilai inflasi terlalu tinggi.
Advertisement
Data terbaru menunjukkan harga-harga naik 3,4% dalam periode satu tahun hingga Juli, melampaui target 2% yang ditetapkan The Fed. Ukuran inflasi lain yang juga dipantau ketat oleh The Fed tercatat berada di angka 3,7%.
Warsh menyampaikan komentar tersebut dalam pidato perdananya di Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole tahunan di Wyoming, sebuah ajang pertemuan bagi para bankir sentral, pejabat pemerintah, dan akademisi dari seluruh dunia untuk membahas suku bunga, inflasi, dan isu-isu ekonomi lainnya.
Warsh mengatakan, mengingat harga-harga naik lebih dari 2% secara tahunan, fokus utama The Fed saat ini seharusnya tertuju pada harga.
"Inilah tolok ukur saya: Kita harus yakin bahwa inflasi inti bergerak menuju target kita, secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, kita masih memiliki pekerjaan rumah,” ujar dia.
Pimpinan bank sentral ini tetap bungkam mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan, tetapi para investor mencermati pidatonya untuk melihat tanda-tanda pendekatan The Fed di bawah kepemimpinannya.
Kebijakan Suku Bunga jadi Perhatian
Keputusan suku bunga The Fed berikutnya akan diambil pada 15-16 September.Reaksi terhadap keputusan apa pun akan dipantau dengan cermat, terutama mengingat akan diadakannya pemilihan umum sela dan kekhawatiran para pemilih mengenai keterjangkauan biaya hidup.
Trump, yang menunjuk Warsh pada Mei, berulang kali mengkritik dan mendesak pendahulu Warsh, Jerome Powell, untuk memangkas suku bunga. Presiden sebelumnya pernah menyatakan bahwa kenaikan suku bunga "hanya menghambat kemajuan negara".
Dalam pidatonya, Warsh meminta agar pernyataannya tidak dilabeli sebagai "panduan ke depan" (forward guidance). Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa praktik memberikan sinyal kepada pasar mengenai keputusan suku bunga di masa depan yang mulai diterapkan pasca-krisis keuangan 2008 sudah tidak lagi relevan atau perlu diakhiri.
"Terlalu banyak membeberkan pertimbangan kebijakan dan terlalu dini berkomitmen pada keputusan masa depan dapat menyesatkan pasar, dunia usaha, dan rumah tangga," ujar dia.
Ia menuturkan, hal itu juga membatasi kebebasan The Fed untuk "mengambil langkah yang tepat saat tiba waktunya untuk memutuskan".
Advertisement
Sinyal Hawkish
Suku bunga dipertahankan pada kisaran 3,5% hingga 3,75% pada Juli untuk kelima kalinya secara berturut-turut di tengah kekhawatiran inflasi akibat konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, yang telah memicu lonjakan harga minyak global.
Menyusul pernyataan Warsh, pasar suku bunga menunjukkan peningkatan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga pada September, menurut data CME.
Para analis di Capital Economics menyatakan pidato Warsh menyampaikan pesan yang "jauh lebih jelas—dan bernada hawkish, serta membuka "peluang bagi kenaikan suku bunga" lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
"Kenaikan suku bunga memang tidak dapat dipastikan, namun Warsh kini setidaknya mengisyaratkan dukungannya terhadap langkah tersebut jika pertumbuhan ekonomi tetap kuat dan laju kenaikan harga inti PCE (Personal Consumption Expenditures) bulanan masih tergolong cukup tinggi," ungkap mereka.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6




