Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnWawasanSelengkapnya
Bahlil Soal Bursa Komoditas: Masa Barang Kita Diatur Orang Lain?

Bahlil Soal Bursa Komoditas: Masa Barang Kita Diatur Orang Lain?

Liputan6Liputan62026/08/19 14:03
Oleh:Liputan6
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di JICC Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta -
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan tujuan di balik pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Salah satunya adalah untuk menentukan harga komoditas andalan Indonesia di pasar dunia secara mandiri.

Dia menjelaskan, selama ini harga komoditas andalan Indonesia lebih banyak ditentukan oleh negara lain. Bahlil menegaskan bahwa pemerintah ingin harga berbagai komoditas strategis tersebut dapat dikendalikan dari dalam negeri.

"Jadi begini, selama ini kan komoditas kita ini diatur harganya oleh negara lain. Dengan bursa komoditas yang diperintahkan oleh Bapak Presiden, diharapkan seluruh sumber daya alam yang kita hasilkan dari negara kita, ya kita sendiri yang menentukan harganya," kata Bahlil di JICC Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Dia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto menginginkan setiap komoditas yang dihasilkan di Tanah Air dapat memberikan manfaat optimal, termasuk dari sisi penetapan harga keekonomian dalam transaksi penjualannya.

"Masa barang-barang milik kita diatur oleh orang lain? Enak saja. Ini yang selama ini terjadi. Bapak Presiden Prabowo ingin agar seluruh kekayaan yang ada di dalam negara kita diatur seutuhnya oleh negara kita dengan harga keekonomian yang baik," bebernya.

Batu bara menjadi salah satu contoh yang disorotinya. Kebijakan pengetatan ekspor batu bara yang diterapkan beberapa waktu lalu terbukti langsung memengaruhi harga jual di tingkat global.

"Batu bara contohnya, selama ini harganya diatur oleh negara lain. Saat diatur pihak luar, harganya cenderung di bawah. Begitu kita buat pengetatan untuk menjaga supply and demand, harganya sekarang mulai membaik. Artinya, selama ini memang ada potensi permainan," urainya.

"Begitu mau kita rapikan, ada yang tidak setuju. Namun bagi saya, meluruskan apa yang menjadi target pemerintah di bawah pimpinan Presiden Prabowo adalah prioritas. Apa pun akan kita lakukan demi kebaikan rakyat, bangsa, dan negara," sambung Bahlil.

 

Bocoran Nama Bursa Mineral

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. (Liputan6.com/Lizsa Egeham)

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkap gambaran komoditas yang akan masuk dalam Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Bursa yang diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut rencananya akan diberi nama Indonesia Commodity Exchange (Icomex).

Prasetyo mengatakan, meski daftar resminya belum final, komoditas utama seperti batu bara, minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), hingga nikel berpeluang besar untuk masuk.

"Belum diputuskan secara final. Yang pasti adalah komoditas-komoditas unggulan yang memang produksi utama kita, misalnya CPO, nikel, dan batu bara. Semua sedang disiapkan," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (17/8/2026).

 

Indonesia Commodity Exchange

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. (Foto: istimewa)

Kepala Negara berharap BMKS mampu menjadi acuan utama penetapan harga komoditas unggulan yang diproduksi di dalam negeri. Prasetyo mengonfirmasi bahwa nama yang disiapkan untuk bursa ini adalah Indonesia Commodity Exchange (Icomex).

"Ya kurang lebih namanya Indonesia Commodity Exchange atau Icomex," ucapnya.

Prasetyo menambahkan, pihak Istana masih mematangkan skema dan kelembagaan Icomex, termasuk hubungannya dengan Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) yang sudah ada saat ini.

"Makanya ini sedang dalam proses pengaturan. Intinya bukan soal tumpang tindih lembaga, melainkan kedaulatan atas barang-barang yang kita miliki. Kita yang harus menentukan harganya, karena selama ini kan tidak demikian," tegasnya.

 

Peluang Penggabungan dengan ICDX

Terkait nasib ICDX setelah Icomex resmi meluncur, Prasetyo menyampaikan bahwa keputusan akhir belum diambil. Menurutnya, masih ada berbagai opsi yang sedang dikaji, baik berdiri sendiri maupun digabungkan.

"Nanti kita lihat perkembangannya, bisa jadi digabung atau berdiri sendiri," ucap Prasetyo.

Ia juga menegaskan bahwa akan ada mekanisme khusus untuk mengalkulasi dan menentukan harga komoditas dalam bursa tersebut. "Nanti ada mekanismenya tersendiri, memperhitungkan struktur biaya hingga dinamika harga dunia," tutupnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!