Protokol kripto menghabiskan lebih dari $1,4 miliar untuk membeli kembali token mereka sendiri pada tahun 2025. Hyperliquid sendiri menyumbang sekitar 46% dari total tersebut, menggunakan sekitar 97% biaya transaksinya untuk membeli HYPE.
Protokol utama lainnya, termasuk Aave, Uniswap, Sky, Pump.fun, Aptos, dan Solana, mencoba strategi serupa: menggunakan pendapatan protokol untuk mendukung nilai token mereka.
Idenya adalah jika sebuah protokol menghasilkan uang dan menggunakan uang tersebut untuk membeli atau membakar tokennya sendiri, maka pasokan akan turun dan permintaan bisa naik.
Namun, apakah strategi ini benar-benar berhasil?
Baru-baru ini, analis Bill Hsu mempelajari 10 token utama dengan program buyback aktif. Hanya tiga yaitu AAVE, HYPE, dan SKY yang kinerjanya lebih baik daripada Bitcoin selama periode buyback.
Artinya, 7 dari 10 tetap berkinerja di bawah Bitcoin.
Jadi, mengumumkan buyback tidak otomatis membuat token akan berkinerja lebih baik. Investor juga perlu melihat seberapa besar pendapatan yang dihasilkan protokol, bukan hanya fokus pada berita buyback saja.
Buyback yang paling efektif bukan hanya pengumuman besar. Buyback tersebut besar dibandingkan dengan pasokan token dan pendapatan protokolnya.
Hyperliquid telah menghabiskan sekitar $644 juta untuk membeli kembali HYPE menggunakan biaya transaksi yang berkelanjutan. Pump.fun telah membakar sekitar 36% dari total pasokan tokennya dan menggunakan setengah dari pendapatannya untuk pembakaran tambahan.
Uniswap telah membakar lebih dari 107 juta UNI dan telah memulai sistem biayanya. Aave juga menggunakan pendapatan protokol untuk melakukan buyback secara rutin.
Buyback kecil mungkin tidak banyak berpengaruh pada harga, meski jumlah nominalnya terdengar besar. Kuncinya adalah membandingkan buyback dengan total pasokan dan nilai pasar token.
Sebagai contoh, buyback senilai $20 juta yang mengurangi 13% dari pasokan token, seperti yang dilakukan GMX, bisa berdampak lebih besar dibanding buyback senilai $150 juta yang hanya mengurangi 5% dari pasokan token yang lebih besar.
Perlu dicatat, sistem buyback Hyperliquid berbeda karena berjalan secara terus-menerus dan langsung terhubung dengan aktivitas trading.
Ketika volume trading meningkat, buyback HYPE juga naik. Proses ini tidak bergantung pada hasil voting, keputusan treasury, atau keputusan dari yayasan tertentu.
Hal ini membuat sistemnya lebih dapat diprediksi dibanding program buyback lain, yang bisa melambat atau berhenti ketika dana mulai menipis.
Kinerja kuat HYPE menunjukkan bahwa buyback yang konsisten mungkin lebih penting daripada sekadar mengumumkan buyback besar.
