Negara-negara Teluk mempercepat pembangunan jalur alternatif pengiriman minyak, ketergantungan pada Selat Hormuz menghadapi restrukturisasi jangka panjang.
⑴ Sebelum perang Iran, sekitar 15 juta barel minyak mentah Teluk diekspor setiap hari melalui Selat Hormuz. Namun, selat tersebut telah lama terkendala risiko geopolitik, sehingga negara-negara produsen minyak menginvestasikan puluhan miliar dolar untuk membangun pipa pengganti dan mengalihkan lebih banyak pasokan ke pelabuhan di sepanjang Laut Merah dan Teluk Oman. Setidaknya tujuh proyek pipa utama sedang dalam tahap konstruksi, perencanaan, atau diskusi.⑵ Pipa timur-barat milik Saudi dan pipa Uni Emirat Arab ke Fujairah sebelum perang memiliki kapasitas berlebih sekitar 3,5 hingga 5,5 juta barel per hari, namun kini keduanya hampir beroperasi pada kapasitas penuh. Abu Dhabi sedang mempercepat pembangunan pipa paralel sepanjang sekitar 300 kilometer, dengan investasi sebesar 3 miliar dolar, bertujuan meningkatkan kapasitas pasokan ke Fujairah lebih dari 1,2 juta barel per hari, yang diperkirakan akan selesai paling cepat awal 2027.⑶ Irak sedang meningkatkan pengembangan rute ekspor alternatif dari ladang minyak Basra bagian selatan, dengan rencana membangun pipa menuju Pelabuhan Ceyhan di Turki dan Pelabuhan Banias di Suriah, yang pada akhirnya dapat mengirim hingga 2 juta barel per hari. Selain itu, diskusi dengan Yordania terkait rencana pipa ke Pelabuhan Aqaba juga telah dilanjutkan, tetapi rute Laut Merah juga menghadapi risiko serangan oleh kelompok Houthi.⑷ Analisis Goldman Sachs menyatakan bahwa setelah seluruh proyek alternatif tersebut selesai, hingga akhir tahun depan kapasitas bypass dapat meningkat sekitar 3,8 juta barel per hari, dan pada akhir 2028 mencapai 7,3 juta barel. Saat itu, sekitar 60% dari total ekspor harian pra-perang di kawasan Teluk, sekitar 23 juta barel, dapat menghindari Selat Hormuz jika diperlukan. Namun, rute alternatif memakan waktu lebih lama, biaya lebih tinggi, dan pipa tersebut juga menghadapi ancaman keamanan.⑸ Pengangkutan LNG masih tidak dapat digantikan oleh pipa. Sebelum perang, sekitar satu perlima LNG global melewati Selat Hormuz. Masalah jalur pasokan Qatar ke pelanggan Asia dalam waktu dekat sulit diatasi dengan solusi pipa, sehingga blokade selat akan terus memberikan dampak struktural bagi pasar gas alam.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!